Saya sedang di jembatan penyeberangan sore itu, ketika seorang teman menanyakan berapa lama saya ingin tinggal di Jakarta.

“Sampai sepuluh tahun ke depan, gitu?” tanyanya. Melihat dari betapa saya banyak berkelana—kalau kata ini bisa dipakai untuk kebiasaan saya yang berpindah-pindah kota tinggal setiap beberapa tahun sekali—maka, bisa jadi saya juga akan pindah dari sini tidak lama lagi.

“Kayaknya enggak,” jawab saya.

“Emang lo kuat, ya, tinggal di Jakarta?”

Jembatan penyeberangan di depan Halte Busway Gelora Bung Karno.

“Kuat?” saya balik bertanya. Heran dengan pilihan kata yang dia pakai.

“Iya, kuat. Ini kota penuh macet, jalanan penuh, lo tinggal di sini bakalan tua di jalan,” jelasnya.

Baiklah. Itu yang dia maksud dengan ‘kuat’. Sesederhana; apa saya bisa menghadapi sistem transportasi publik di Jakarta—begitu, bukan?

“Tapi, Jakarta udah jauh lebih baik dari beberapa tahun lalu, sih,” ujar saya.

Saya besar dan hidup di Jakarta sejak umur lima tahun. Sejak di Blok M ada bus tingkat—ah, ketahuan, deh, betapa tuanya saya. Buat saya, kota ini bukan saja tempat saya tinggal, tetapi juga sudah jadi kota rumah (hometown). Mungkin orang punya kampung halaman untuk menyebut tempat pulang setahun sekali di mana orang tua mereka tinggal. Mereka mudik dan bertemu sanak-saudara di kampung halaman. Saya juga punya kampung halaman itu. Namun, saya punya Jakarta sebagai kota tempat saya kembali setiap kali saya berkelana ke banyak kota yang lain. Pada akhirnya, ke Jakarta juga saya kembali.

Saya membuat banyak kenangan di setiap sudutnya di sini dan, baru akhir-akhir ini saya pahami bahwa semua kenangan yang saya punya itu, dihubungkan—dirajut, if you will—dengan sesuatu yang menyatukan tempat dan waktu; jalanan.

The beginnings of wisdom come from a simple conviction: Cities should be designed for people, not cars.  This sounds obvious in theory, but what does it mean in practice?  It means citizens should have rich options for their access needs, with or without cars.  Most people think about mobility as the goal, but the truth is we drive in order to access amenities—work, school, a restaurant, or a park, say.

Forbes

Kalau kamu suka bermain city building, kamu pasti paham bahwa hal pertama yang harus dipikirkan dan didesain bahkan sebelum kotanya ada adalah; jalanan. Itu tidak bisa asal-asalan karena kamu harus membuat—entah bagaimana caranya—jalanan itu tidak hanya menghubungkan antara sumber daya alam dengan tempat pengolahannya, tetapi juga dengan sumber daya manusia yang akan mengolah bahan baku itu. Belum selesai sampai di situ, kamu juga harus memastikan bahwa produk barang dan jasa yang dihasilkan bisa didistribusikan dengan baik ke masyarakat agar mereka bisa hidup dengan layak. Segitu pentingnya fungsi jalanan sebagai sarana transportasi dan distribusi. Saya membayangkan kalau hal seperti itulah yang juga dipikirkan oleh Kementrian Perhubungan di Indonesia. Kementrian ini bukan hanya memastikan bahwa sarana transportasi sampai ke pelosok negeri untuk membuat masyarakat bisa berpergian dari satu tempat ke tempat lain dengan mudah, tetapi, lebih penting dari itu; memastikan bahwa barang dan jasa bisa sampai ke jangkauan setiap penduduk.

Kalau di dalam games, ketika barang dan jasa ini tidak sampai ke penduduk, maka penduduknya tidak akan bahagia dan mereka pun tidak akan naik dan baik tingkat perekonomiannya. Di kehidupan nyata, kita bukan lagi bicara tentang bahagia atau tidak bahagia, tetapi tentang anak-anak di pelosok yang melewati jembatan rusak untuk pergi ke sekolah, ibu-ibu yang harus menumpang sampan untuk bersalin di fasilitas kesehatan, dan bahan pangan yang dikirim ke pulau terpencil dengan perahu atau pesawat kargo.

Menunggu kapal berlabuh. (Pelabuhan Pamatata, Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.)

Saya pernah tinggal di Kepulauan Selayar selama empat tahun. Suatu ketika, di musim angin kencang, transportasi laut terputus selama dua minggu dan anak saya pun tidak bisa membeli susu. Kami harus menunggu susu dan bahan kebutuhan lain dikirim ke ibukota kabupaten dari daratan Sulawesi. Sekarang cerita itu jadi kenangan pahit-manis yang bisa diceritakan. Namun, ketika itu terjadi, saya bisa pastikan bahwa saya tidak menikmatinya sama sekali. Hehe.

Pembangunan Infrastruktur untuk Transportasi yang Lebih Nyaman

Sebegitu pentingnya transportasi yang aman dan nyaman bagi masyarakat, membuat Kemenhub membangun infrastruktur yang lebih baik. Selama tahun 2014 sampai tahun 2018, Kemenhub membangun:

Pembangunan jalur kereta api dan stasiun kereta api adalah yang paling menarik perhatian saya di tahun ini karena kereta api adalah pilihan transportasi publik yang cepat, murah, dan bisa mengangkut banyak orang dalam waktu bersamaan. Untuk menghubungkan satu kota dengan kota lainnya dan titik-titik dengan kepadatan mobilitas penduduk di dalam kota besar, kereta api jadi pilihan yang bagus.

Untuk sarana transportasinya sendiri:

Kereta api (atau untuk di dalam kota Jakarta biasa disebut Commuter Line) jadi hal yang paling terlihat perkembangannya. Saya sendiri tinggal di pinggir kota dengan kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Kebanyakan lahan dipakai untuk area resindensial yang kemudian membuat penduduk di sekitar tempat tinggal saya biasa melalukan perjalanan ke tengah kota untuk bekerja. Karena lokasi stasiun kereta api yang dekat, kebanyakan mereka memilih untuk baik kereta api.

Tentang kenyamanan, sudah sangat jauh berbeda dengan lima atau enam tahun yang lalu. Saya masih ingat ketika saya SMA, saya naik kereta api dari tempat les ke kampus bukan karena nyaman atau aman, tetapi karena sesederhana; saya bisa tidak membayar kalau saya cukup pintar untuk menghindari petugas (hiks, maafkan saya). Sekarang, kereta api pelayanannya dibuat senyaman mungkin dengan menggunakan kartu elektronik sehingga pelajar nakal seperti saya tidak lagi bisa naik tanpa membayar. Stasiunnya sendiri direnovasi dan dibuat nyaman untuk menunggu. Kamu pernah ke Stasiun Juanda? Ah, rasanya mungkin sudah mirip dengan stasiun kereta api yang ada di Jepang dengan lantai dasar yang diisi oleh toko makanan dan kafe. Kalau kamu berangkat di pagi hari dan ingin sarapan, kamu bisa membeli roti dan kopi di sana sebelum sambil menunggu keretamu datang.

Mungkin keluhan Iwan Fals yang dia sampaikan di lagunya Kereta Tiba Pukul Berapa tidak lagi banyak dikeluhkan karena sekarang kereta sudah sangat tepat waktu—kecuali kalau ada gangguan atau kecelakaan dan ini bisa dipahami.

Seperti kutipan yang saya ambil dari Forbes di atas; kota sebaiknya dibangun untuk manusia, bukan yang lainnya. Saya tidak punya kenangan manis tentang kereta api semasa saya SMA—kenakalan saya yang tidak membeli tiket itu tidak bisa dikatakan sebagai ‘kenangan manis’, hehe. Namun sekarang, kamu bisa naik kereta untuk sampai ke tempat tujuanmu, sambil mendengarkan lagu atau podcast di Spotify dan punya pengalaman menyenangkan tentang perjalanan itu. Kamu bisa melewati stasiun dan mencium aroma kopi dan menjadikannya tempat bertemu. Sungguh kereta api dan stasiun di Jakarta bisa jadi tempat yang kamu akan sukai dengan catatan; hindari jam sibuk kantor.

Stasiun Juanda bukan di jam pulang kantor, sehingga kelihatan lengang.

Selain kereta, saya juga suka naik Trans Jakarta—atau saya lebih suka menyebutnya dangan Busway. Beberapa teman saya menyebut sistem transportasi ini dengan; TraJa.

Untuk Busway ini, saya jadi saksi hidup bagaimana jalan-jalan di Jakarta dibelah untuk jalurnya sekitar tahun 2006-an awal. Saya ingat betapa waktu itu masyarakat mengkuatirkan kalau proyek ini malah akan menyusahkan mereka di kemudian hari karena tiketnya mahal dan tidak menjangkau sampai ke pelosok kota. Di awal pembangunannya, memang hanya ada beberapa koridor dan dimulai dari tengah kota—seingat saya, dimulai dari koridor Harmoni-Kota. Setelah itu, baru dilanjutkan sampai ke tepian kota. Saya tinggal di Cibubur dan bisa dengan mudah menjangkau koridor di dekat Tamini dengan naik feeder dari Cibubur Junction. Ini sungguh kemudahan yang tidak terbayang sebelumnya.

Banyak hal yang berubah setelah jalur Busway mencakup satu kota Jakarta. Salah satunya; semua jadi lebih mudah dan murah. Memang di jam-jam tertentu, halte akan sangat penuh dan busnya juga berdesakan. Namun, kondisinya jauh lebih baik dibanding ketika saya masih harus naik Kopaja atau Metromini—ditambah bonus copet, pedagang asongan, pengamen, dan pengemis. Perjalanan di Jakarta terasa sangat tidak nyaman. Mungkin ini juga yang membuat kehidupan di Jakarta jadi terasa keras karena ke mana pun pergi, kebanyakan orang tidak bisa merasa nyaman dan aman. Transportasi publik yang menjamin kedua hal itu menjadi sesuatu yang wajib ada, tidak bisa tidak, kalau ingin membuat kehidupan di kota jadi lebih baik. Okelah, di dalam Busway masih berdesakan, tetapi setidaknya saya berdesakan di bus yang nyaman dengan sekat yang membatasi area penumpang lelaki dan perempuan. Kalau saya pergi dengan orangtua saya, saya tahu kalau mereka akan aman karena ada kursi prioritas.

Di dalam Busway menuju Halte Garuda-Taman Mini.

Kota Jakarta ini kota saya, tempat saya ingin punya banyak kenangan di dalamnya. Saya ingin mengingat bahwa tempat-tempat yang saya kunjungi dan sukai tanpa kenangan itu dilukai pengalaman tidak menyenangkan di jalan. Saya ingin pengalaman berperjalanan yang nyaman. Apa yang dilakukan Kemenhub dengan menambah fasilitas transportasi publik membuat saya bisa merasakan itu semua walaupun belum sempurna. Walaupun masih banyak yang bisa ditambah dan diperbaiki, tetapi semua sudah mengarah ke hal yang baik.

Pembangunan transportasi bukan hanya tentang membangun jalan dan menambah angkutan dan sistemnya, tetapi juga tentang membuat sebuah kota jadi lebih nyaman ditinggali dan membuat penduduknya punya kualitas hidup yang lebih baik.

Saya ingin tinggal di Jakarta ini sampai sepuluh tahun ke depan. Berjalan di dalamnya dari satu halte Busway ke halte yang lain, dari satu stasiun ke stasiun yang lain dengan aman dan nyaman. Sekarang saya sudah bisa melakukannya. Saya ingin di masa mendatang, semua itu jadi lebih mudah lagi, lebih nyaman lagi.

Tahun ini, tepat empat tahun saya menetap di Jakarta dan jatuh cinta lagi pada kota ini. Dia masih sama seperti dulu, tetapi sekarang dia lebih dewasa, lebih teratur, dan bisa diajak bercengkrama. Semoga seperti itu terus, ya. ^^

* * *

Semua gambar diambil dari koleksi pribadi. Infografis milik Kemenhub.