MENJADI HANTU

kau berjalan di sisi trotoar sempit dan padat kota ini tanpa takut bersinggungan dengan orang lainnya  karena kau tembus pandang, kau tembus sentuh, kau memilih untuk menjadi hantu.

di kelam dini hari, kau berdiri di jembatan penyeberangan itu, yang dulu pernah kau lewati dengannya di suatu siang—waktu itu kalian belum tahu bagaimana rasa musti dibinasakan dan memutuskan untuk menjahit jelujur hari ke hari, bulan ke bulan—untuk sampai ke kedai kopi yang kau suka dan dia pun coba untuk sukai. kau terlihat seperti bayangan putih dengan tengah dada memerah karena di sana pernah ada jantung, lalu jantung itu pecah, dan merahnya tetap tersisa walaupun kau sudah memilih untuk menjadi hantu.

kau dulu pernah menganggap bahwa kau bisa mengalahkan kota ini, lalu kota itu, lalu kota yang lain lagi, seolah untuk menyandera satu kota kau tak butuh puluhan ribu ksatria dengan kuda dan pedang. kau lalu menyerah kalah. peperangan itu tak berdarah, hanya tubuhmu hancur. setelah itu, kau memilih untuk menjadi hantu.

di kota ini. di tempat ini. di mana kenangan manis mengawang di udaranya.

tapi, kau sudah memilih menjadi hantu. jantungmu pecah. perangmu kalah. kenangan manismu patah. hmmm

kau pun menjadi hantu.

06072019 👻 ONH

Pada suatu ketika, di masa muda saya—yang bukan saja muda, tapi juga bodoh dan patah hati—saya pernah berjalan di sepanjang trotoar di malam hari setelah bertengkar dengan si Pacar. Ketika itu, saya pikir, berjalan bisa menenangkan pikiran. Memang seharusnya begitu, sampai ketika perjalanan menyusuri patah hati itu menjadi begitu menakutkan dan sulit karena trotoar rusak, pedagang kaki lima, dan begitu banyak kendaraan bermotor yang naik ke ruang pejalan kaki. Entah apa yang harusnya saya katakan ketika itu. Mungkin bilang bahwa bukan hanya hak untuk berjalan saya yang dirampas, tetapi juga hak untuk merasakan patah hati, berdarah-darah sepanjang trotoar, di awal malam, sambil menangis, dan mengutuki kebodohan dan masa muda saya. Seharusnya bisa demikian. Seharusnya.

Namun, beberapa tahun belakangan, saya mulai berjalan lagi. Kota ini tidak lagi seperti dulu; trotoarnya bisa disusuri, lapang, dan aman. Kegiatan berjalan ini juga erat hubungannya dengan kemauan saya untuk menggunakan transportasi umum di Jakarta—lagi-lagi ini tentang sudah mulai rapi, lengkap, dan nyamannya transportasi umum di Jakarta. Dari halte transjakarta ke stasiun kereta yang jaraknya tidak seberapa—tidak sampai satu kilometer—saya lebih memilih berjalan. Bukan lagi karena alasan patah hati, tetapi karena jalan memang menyehatkan. (Berjalan menyusuri trotoar karena kamu patah hati pun sebenarnya menyehatkan atau yaaah … membantu menyembuhkan hatimu, sih, hehe….).

Beberapa waktu lalu, ketika saya berjalan dari halte transjakarta di Juanda untuk transit ke stasiun kereta api di Juanda juga (yang bersebelahan dan sangat dekat), saya melihat ada kakak-kakak dari Kementrian Perhubungan Republik Indonesia yang melakukan kampanye gerakan jalan kaki. Mereka membagikan pin, botol minum, kipas, dan melakukan survey kepada beberapa pejalan kaki yang punya waktu dan bersedia untuk mengisi angket.

Kegiatan ini dimaksudkan untuk menyebarkan semangat baik tentang jalan kaki: Bahwa jalan kaki itu sehat, bisa mengurangi polusi karena emisi kendaraan (kalau kamu lebih memilih untuk jalan kaki dan memakai transportasi umum dibanding membawa kendaraan pribadi), dan juga memberikan edukasi tentang manfaat jalan kaki kepada masyarakat.

Kalau kamu bertemu dengan mereka, kamu bisa bicara tentang manfaat berjalan kaki dan juga mendapat hadiah. Jadi, jangan takut kalau ada mereka.

Saya pikir, saya tidak berlebihan kalau menginginkan kota ini menjadi kota yang menyenangkan untuk disusuri karena memang perencanaan tata kota Jakarta sepertinya akan mengarah ke sana. Kalau kamu berjalan di sekitaran Sudirman, kamu pasti sudah merasakan trotoar yang luas dan menyenangkan di sana. Di daerah Cikini pun, ketika pekan lalu saya ke sana, trotoarnya sedang diperbaiki agar menjadi lebih aman dan nyaman untuk disusuri.

Sayangnya, saya tidak lagi muda. Tetapi, saya masih ingin merasakan berjalan di sepanjang trotoar ketika hatimu resah, membuat puisi—seperti yang saya tulis di atas—lalu berhenti di taman-taman. Kota adalah tempat hidup manusia, tentang manusia, karena itu kota yang baik seharusnya adalah kota yang menyenangkan untuk manusia yang menghuninya. Saya ingin, kota ini, menjadi kota seperti itu.

Credit to background photos: https://unsplash.com/photos/RJla0P7GNiY